DISCOGRAPHY - Iwan Fals "Manusia Setengah Dewa (2001)"

Iwan Fals rupanya bukan saja dalam suasana dirundung bahagia, seperti kelahiran putranya yang ke-3, keluarnyaalbum kolaborasi bersama musisi muda seperti dengan Pongky Jikustik, Azies Jamrud atau bahkan bersama Piyu Padi.

Booming Iwan di dunia musik Indonesia tahun ini benar-benar tak terbendung. Ia makin mengkristal dan makin melegenda. Itu saja ternyata belum cukup, semangat berkesiannya terus menggebu. Dan jika Iwan sedang kreatif, sepertinya tak satu apapun bisa membendungnya. Contohnya penggarapan album ini hanya memakan waktu 10 hari kerja. Mungkin ini salah satu album yang tercepat penggarapannya. Dan setelah itu, pihakMusica pun dengan kerja kilat melakukan mixing, duplicating, pengerjaan disain album, sampai pendistribusiannya. Kendati begitu, pihak Musica tetap menjaga quality control yang baik. Selain itu yang menarik juga adalah disain cover yang dihasilkan oleh Uthe. Uthe, sepertinya mengimajinasikan manusia setengah dewa sebagai seseorang dengan kostum kerajaan yang berkendara seekor burung berwarna hijau yang sedang terbang di angkasa raya.

Yang juga berubah dari seorang Iwan dalam album ini adalah tandatangannya. Jika pada album-album terdahulu kita melihat tandatangan Iwan adalah yang menggambarkan tikus, kini tak tampak lagi. Tandatangan Iwan adalah goresan nama Iwan Fals tanpa huruf L, dan atas bawahnya diberi garis vertikal.

MANUSIA SETENGAH DEWA, maka itu adalah cerminan Iwan yang sangat sugestif. Album ini memang dikerjakan Iwan sendirian, tanpa bantuan musisi lain, dan hanya dengan sebuah gitar kopong. “Entah kenapa keinginan itu kok tiba-tiba saja menggebu.” Begitu Iwan memulai percakapan soal album ini.

Dan tak tanggung-tanggung, Iwan langsung merekam 12 lagu dalam album ini. Lagu-lagu itu dibuat Iwan dalam beberapa decade, “Sebagian lagu saya buat pada masa peralihan jaman Pak Harto ke jaman Pak Habibie, sebagian lagi ditengah-tengah suasana reformasi, dan sebagian lagi di penghujung tahun ini,” tutur Iwan sambil mengusap rambutnya yang dominan putih. Sebuah lambang pemikir?

Dan seperti yang disiratkan Iwan, bahwa lagu-lagu tersebut dicipta pada masa-masa kekuasaan, maka tak heran bila liriknya mengacu pada masalah politik. Tapi politik di tangan Iwan tentu bukan politik praktis atau frontal. Ia masuk melalui kejenakaan bertutur. Kendati begitu maknanya bisa pedas, tajam, menghardik, dan sinis.

ASIK NGGAK ASIK. Iwan bilang dunia politik kayak orang pacaran, kayak main catur, penuh taktik, penuh intrik. Atau pada lagu MANUSIA SETENGAH DEWA yang bercerita tentang harapan terhadap presiden yang baru nanti. Tak kalah menarik adalah lagu 17 Juli 1996, tentang peristiwa berdarah yang dikenang Iwan dengan lugu.Rata-rata Iwan melantunkan lagu-lagunya dengan rileks, dan sangat mudah dicerna. Barangkali berkat hanya dengan permainan gitar yang simple dan tak banyak instrumen yang dipakai, fungsi lirik jadi lebih dominan.

Dari 12 tembang yang dilantunkan Iwan dalam album ini, kita akan mendengar Iwan yang dulu, tapi dalam sentuhan yang lain.

Selain lagu-lagu di atas, lagu BUKTIKAN (yang menyorot pada janji-janji pejabat, yang ternyata membohongi rakyat), PARA TENTARA (yang merupakan sebuah himbauan yang patut diperhatikan), MATAHARI, BULAN DAN BINTANG (yang liriknya digarap dengan makna yang dalam) atau POLITIK UANG yang dinyinyiri Iwan sebagai bahasa kalbu masa kini, merupakan lagu yang kayaknya wajib disimak oleh pencinta musik Indonesia.