DISCOGRAPHY - Iwan Fals "In Collaboration with (2003)"

Perjalanan panjang Iwan Fals dalam kancah permusikan Indonesia, telah menjadi salah satu tonggak dalam peta musik itu sendiri. Hampir segala hal dalam dunia musik telah dijelajahinya. Kurang lebih 20 tahun sudah, seorang Iwan Fals menjejakkan langkahnya, bukan waktu yang sebentar tentunya.

Sebagai musisi, Iwan ternyata sangat realistis dalam memandang keberadaan dirinya sendiri, “Ada waktu yang terputus selama aku tidak rekaman, sampai akhirnya mengeluarkan album “Suara Hati”, sekitar 8 tahun aku tidak membuat album. Sehingga waktu harus membuat lagu, terutama lagu cinta, aku butuh pendekatan yang dalam,” tutur Iwan ketika ditemui disalah satu beranda rumahnya di Leuwinanggung, Jawa Barat.

Tentu banyak yang bertanya, kenapa Iwan bersedia berkolaborasi dengan banyak musisi, terutama yang muda-muda. Pemikiran Iwan Fals simple saja, “Di televisi aku lihat mereka adalah musisi yang handal. Makanya aku putuskan untuk bekerjasama dengan mereka,”ungkap Iwan. Dan sebagai yang senior, Iwan pun memberi kebebasan pada mereka dalam lagu atau aransemen, “Aku biarkan mereka berkarya sebagai diri mereka sendiri, kendati pada akhirnya mereka pun mempelajari karakterku, tapi aku juga mempelajari karakter karya mereka. Jadi akhirnya sama-sama mendalami dan akhirnya ketemu.”

Pendalaman Iwan terhadap musisi yang diajaknya bergabung cukup jelas digambarkan, “Kikan misalnya, aku suka mendengar cara dia bernyanyi. Rileks seperti mendengar seseorang bernyanyi di beranda rumah pada senja hari,” ungkap Iwan dengan puitis. Iwan memang sudah dikenal sebagai seseorang yang ekspresif, imajinatif sekaligus realistis. Atau bagaimana arifnya Iwan memahami Eross dalam lagu Senandung Lirih. “Pertama aku bingung memahami yel-yel lagu itu, diputus pacar kok malah ber-la la la. Tapi setelah Eross menjelaskan maknanya, aku paham, dan senang dengan keputusan Eross yang dibuat dalam lagu itu.”

Lanjutnya lagi tentang Harry Roesli, musisi yang lebih senior dari Iwan.”Aku diteliti oleh Kang Harry, maklum dia kan doctor musik, jadi sangat terbiasa untuk meneliti sebelum bekerja. Lagu Rindukuadalah hasil pemahaman Kang Harry terhadap karakter saya. Dia melihat saya dari sisi yang dipandangnya dan aku rasa lagu itu sangat cair. Lalu bandingkan pula dengan lagu Ancur punya Azis, aku justru membawakannya dengan jenaka. Kayaknya memang begitu tuntutan Azis, dan itu karakter dia juga.” ungkap Iwan panjang lebar. Kemudian ada pula teman lama yang diajaknya, yaitu Heirrie Buchaery dan Bagoes AA. Mereka adalah dua teman musik Iwan yang sudah seiring sejalan sejak awal karirnya.

Dari cara Iwan menuturkan pengenalannya terhadap satu persatu musisi yang diajaknya berkolaborasi, terkesan betul bahwa ia memang sedang menembak dengan tepat. Dan tentang kolaborasi dengan PADI tentu banyak orang telah mengetahui bahwa pergaulan Iwan dan PADI bukanlah sesuatu yang baru. Mereka telah menjalin persahabatan sudah cukup lama dan kental secara musikalitas.

Masalah tema yang semua cinta itu, Iwan menjelaskan pula, bahwa ini adalah targetnya dikekinian. Dalam kondisi yang carut marut begini, sepertinya semua orang mesti disiram dengan cinta, karena itu meneduhkan. Cinta dalam skala besar, hubungan antar manusia, dari yang pribadi sampai kasih sayang massal.

Ternyata Iwan tetap sedang melakukan aksi protes terhadap zaman, tapi kali ini dengan bahasa yang paling universal dan halus, cinta.