DISCOGRAPHY - Project Pop "Pop Circus (2001)"

Lagu sukses itu ibaratnya pisau bermata dua. Di satu sisi -- udah pasti – bisa mengatrol popularitas pembuatnya. Namun di sisi lain juga bisa jadi beban. Terutama ketika kesuksesan itu membayang-bayangi proses menuju karya selanjutnya.

Hal itu juga sempet terjadi sama Project Pop. Persisnya ketika mereka disodori jadwal produksi follow up untuk album POPCIRCUS

Bagusnya, enggak terlalu lama mereka berkutat dengan kebingungan. Soalnya,

“Kami tau, bahwa kami bukan tipe musisi yang bisa bikin lagu yang udah bisa dipastiin jadi hits!” bilang Udjo.

Itu makanya, Udjo cs. enggak mau kejebak. Ngotot buat mengulang sukses yang mereka cetak lewat Dangdut Is The Music Of My Country. Bukan apa-apa. Buat Project Pop, lagu besutan Yossi itu emang paten. Bahkan bisa dibilang sebagai sebuah masterpiece. Yang enggak mungkin bisa direka ulang. Atau dibikinin penggantinya.

Paruh akhir 2004 lalu, embrio album bertitel POPCIRCUS ini mulai terbentuk. Persisnya saat bareng Irwan Men – music director mereka selama ini, Yossi menyelesaikan demo Jangan Ganggu. Baru satu lagu memang. Cuma, buat personil lainnya, hal ini lebih dari cukup untuk memecah kebuntuan kreativitas.

Satu demi satu, mereka mulai menyumbang ide. Ya lirik, ya musik. Dan akhirnya, hal itulah yang jadi tema besar di album ini. Album yang kaya warna, lantaran dikerjakan oleh semua personilnya!

“Kami sepakat buat bagi-bagi kerjaan di album ini. Tiap-tiap personil kebagian jatah untuk nyumbang minimal satu lagu!” cerita Udjo.

Karena udah jadi satu kesepakatan, maka suka atau enggak, malu atau enggak, nyumbang lagu jadi satu keharusan.

“Seru! Soalnya kan enggak semua kayak Yossi? Ada yang kudu dipaksa-paksa dulu baru mau. Kayak gue sama Tika...,” kenang Udjo.

Seperti kata Udjo, Tika tadinya rada segan menyumbang. Takut malu, takut lagunya nggak diterima. Bagusnya, hal itu enggak keterusan. Belakangan satu lagu pun disumbangkan, Satu ciptaan Tika adalah ‘ngancem’. “Gue dari dulu pengen bikin lagu yang aransemennya kayak musikal Broadway atau swing gitu. Akhirnya kesampean juga!” cetus Tika sumringah.

Satu lagu jawaban Yosi dari lagu ngetop tahun 80-an ‘I Will Survive’-nya Gloria Gaynor yang dikasih judul I Will Not Survive.

Udjo sendiri nyumbangin satu lagu berjudul Cintaku Berat Di Ongkos.

“Ide liriknya gue ambil dari pengalaman pribadi.. Hehehe...,” aku Udjo.

Berhubung dia ngefans berat sama John Mayer plus acoustic-guitar based band, maka tuh lagu diaransemen sedemikian rupa. Sehingga memper sama para influensnya itu.

Yang unik adalah Awas Ada Anjing Galak. Lagu bernuansa crossover rock dan rap ini sebenernya udah dibesut Gugum sejak lama. Persisnya saat anak-anak Project Pop masih kerap nongkrong di markas P Project.

“Cuma, seinget gue, dulu belum terlalu jelas bentuknya. Dan kalo enggak salah, dia maunya bikin kayak death metal gitu... Hahahaha...,” kenang Udjo.

Entah kesambet hantu mana, saat ditagih sama personil lain, tuh lagu lah yang dimajuin. Kali ini malah lebih lengkap dengan aransemen rap rock ala Beastie Boys!

“Terang aja sempet ditolak! Kedengerannya jadi terlalu underground. Sangar dan enggak Project Pop banget. Bagusnya, Irwan bisa ngakalin jadi lebih ceria kayak sekarang,” terang Udjo lagi.

Perombakan besar-besaran juga terjadi di lagu Pahlawan besutan Odie. Pas dipresentasiin aransemennya bener-bener mellow. Karena dirasa enggak terlalu sesuai antara lirik dan musiknya, jadi deh tuh lagu dirombak jadi bernuansa American teenage rock ala Good Charlotte atau Simple Plan. Keren! Biar dibalut lirik yang kedengeran kocak, isinya serius lho! Tentang support moral buat pekerja di jalanan yang nggak kenal capek bekerja. Itu yang dibilang Odie sebagai ‘pahlawan’ bagi keluarganya.

Satu lagu lain yang nggak kalah menarik, judulnya Indovers (Indonesia Overseas). Ciptaan Yossi ini spesial punya. Karena mengambil Rayuan Pulau Kelapa-nya Ismail Marzuki sebagai dasar. Isi lagu ini sendiri menyuarakan kerinduan akan tanah air Indonesia dari mereka yang tinggal jauh di seberang lautan. Rayuan Pulau Kelapa sendiri adalah salah satu lagu nasional favorit semua personil Project Pop. Karena nafas kecintaan akan tanah air begitu kental terasa di lagu itu. Namanya Yossi, nggak bisa jauh-jauh dari rap dan R&B. Jadi deh tuh lagu keren, bertambah ciamik dengan ramuan kedua warna musik itu di bawah aransemen Irwan Men.

“Kami sempet dipertanyakan soal tema lagu Jangan Ganggu. Awalnya banyak keraguan soalnya kan tuh lagu ngangkat tema banci. Takutnya sensitif!” bilang Udjo serius.

Bagusnya, melalui pembicaraan panjang lebar tentang alasan utama di balik tema ini, keraguan itu pun luruh.

“Lagu itu enggak bersifat ngejelekin apa lagi nyudutin satu golongan. Kami cuma berusaha jujur mengangkat fenomena yang ada di sekitar kami. Dengan cara kami. Dan hal itu bukan yang pertama kali kami lakuin....,” terang Udjo lagi.

Iya lah. Hari gini gitu lho. Masih ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan hal lain yang jauh lebih penting buat diurusin. Ketimbang hanya pusing mikirin (apa lagi kalo ujung-ujungnya sampe jadi dipake memasung!) kreativitas yang tujuannya semata-mata hanyalah menghibur.

Setuju?