DISCOGRAPHY - Letto "Cinta...Bersabarlah (2011)"

Hampir setahun vakum, Letto memperkenalkan kumpulan karya terbarunya. Sarat dengan ciri khas yang membesar band itu: lagu, musik, dan lirik bermutu. Penggunaan ketukan yang tidak biasa menambah daya tarik album keempat ini.

Rehat dari hingar bingar industri musik rupanya sangat bermanfaat bagi personil Letto. Arian (bass), Dhedot (drum), Noe Sabrang (vokal), dan Patub (gitar) memiliki banyak waktu untuk melakukan kontemplasi, dan menyegarkan pikiran. “Kami menjadi lebih fresh,” kata Patub. Itulah modal Letto ketika memulai proses pembuatan album ke empat mereka.

Proses, yang berlangsung selama enam bulan di Studio Geese, di Yogyakarta, itu berjalan tanpa gangguan berarti. Bahkan personil Letto masih memiliki energi untuk melanjutkan proses rekaman tersebut ke fase berikutnya. Tidak hanya berhenti di proses tracking, Letto juga mengerjakan sendiri fase mixing album tersebut, seperti halnya ketika mereka menggarap “Lettologica” (2009).

Album ke-empat ini diberi judul “Cinta, Bersabarlah…”. Secara berseloroh personil Letto mengartikan judul tadi sebagai ungkapan kepada penggemarnya yang mau bersabar karena Letto cukup lama menghilang. “Jadi, kalau mereka mencintai Letto, mereka harusnya bisa bersabar,” kata Patub, bercanda.

Namun, diluncurkan cepat atau lambat, Letto adalah Letto. Waktu tidak akan membatasi mereka dalam menghasilkan karya-karya apik. Waktu adalah faktor eksogen yang memicu mereka untuk berdisiplin. Waktu adalah elemen dari sebuah persamaan besar, yang kadang menjadi solusi bagi ketumpulan kreatifitas.

Letto tidak menawarkan sesuatu yang berlebihan di album terbaru ini. Mereka tetap setia pada pakem full instrument. “Itu sudah menjadi trade mark kami,” ungkap Patub. Sejak awal berdiri, Letto langsung menawarkan hal tersebut kepada para pendengarnya. “Kami menjual lagu dan musik,” kata Patub.

Mereka hendak keluar dari kebiasaan yang berkembang sejak Letto muncul ke permukaan. Yakni, band hanya menjual melodi lagu dan lirik, yang sering kali dibuat dengan sengaja untuk mengikuti apa yang berkembang di pasar saat itu. Melodi lagu apik seringkali terdengar kosong ketika tidak dikemas dengan aransemen musik yang matang. Lirik-lirik apik hanya akan menyisakan kehampaan bila musik yang menyertainya tidak ikut memperkaya bangunan lagu tersebut.

Kadang, saking inginnya menumpahkan kreatifitas dalam memainkan instrumen masing-masing, personil Letto menggubah sebuah lagu minimalis menjadi lebih kompleks, meski tidak sama sekali tidak ada maksud untuk merumit-rumitkan komposisinya. Kesukaan mereka pada band-band tahun 80-an, seperti Queen, sedikit banyak ikut mempengaruhi konsep bermusik Letto.

Begitupun, Letto tetap menyelipkan satu dua komposisi yang memiliki aransemen minimalis di setiap albumnya. Tetapi pilihan macam ini bukan sekadar karena ingin mengakomodir permintaan pasar belaka. Ketika Letto menyodorkan komposisi minim instrumen, artinya lagu tersebut memang harus dibuat demikian. Sebab, demikian menurut Letto, “less is more, and more is less.”

“Cinta, Bersabarlah…” menjadi album pertama dimana Letto tidak lagi mempersembahkn komposisi berlirik bahasa Inggris, yang sudah menjadi semacam tradisi di tiga album pertamanya. Kebiasaan macam itu bukan disengaja oleh Letto (sekadar sok-sokan dengan alasan untuk modal ‘go international’, misalnya), namun karena kebutuhan akan keutuhan keseluruhan presentasi di tiga album pertama memang demikian.

Album keempat ini sedikit keluar dari kebiasaan tersebut. “Nafas album baru ini lebih terasa dengan menggunakan bahasa Indonesia,” terang Patub. Kalaupun penggemar Letto merasakan kekurangan album anyar ini di bagian itu, seperti judul album ini, mereka diharapkan bersabar. Letto masih memiliki banyak komposisi berbahasa Inggris, yang siap diperkenalkan di album-album mereka berikutnya.

Yang terjadi justru sebaliknya. Sebuah lagu lama, materi album perdana dan berlirik bahasa Inggris, diubah ke dalam bahasa Indonesia. Komposisi bertajuk Itu Bukan Cinta tersebut sudah lama tak disentuh. Jadi, ketimbang mencoba mendapatkan kembali roh dari lagu itu, personil Letto sepakat komposisi itu diubah ke dalam bahasa Indonesia. Lirik baru itu rupanya cocok dengan keseluruhan nafas “Cinta, Bersabarlah…”.

Meski tidak mempersembahkan lirik berbahasa asing, seperti sudah menjadi pengetahuan umum, Letto tetap datang dengan pilihan kata dan tautan kalimat apik. Kemampuan ini kembali diperlihatkan Noe di hampir semua lagu yang ada dalam album ini. Cinta masih tetap menjadi tema utama bagi Letto. Namun, mereka tidak sekadar menggambarkan kisah kasih asmara, yang dipenuhi pengkhiatan, pengingkaran, rasa bersalah, dan sebagainya. Noe mengajak pendengarnya untuk melihat dari sudut pandang dan filosofi yang berbeda.

Lagu Menyambut Janji adalah salah satunya. “Pada satu titik, seseorang harus berani meraih janji, bersikap, dan memegang prinsip,” terang Noe tentang filosofi di balik pembuatan lirik lagu tersebut. Ia pun menuangkannya ke dalam kalimat-kalimat seperti, “…yang berganti hanya buih, yang sejati tak akan berdalih…”, atau, “… ku tepiskan semua keraguan jiwa, dan ku ganti dengan kepastian hatiku ini, yang mulai mengerti dan berani tuk menyambut janji…”. Keberanian macam itu, dalam hemat Noe, sangat dibutuhkan. Karena, “… kisah cinta yang abadi takkan ada jika tak kau cari…”.

Di Seandainya, Noe mencoba menyodorkan kisah cinta dari orang yang malu-malu mengungkapkan isi hatinya, dan berharap orang yang dikasihinya mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lantas, bagaimana agar ungkapan isi hati tadi bisa sampai ke telinga orang yang dikasihi itu? “…seandainya cinta, tak harus diucapkan dengan kata, seandainya cinta, ada sejuta cara ‘tuk berikannya…”, tulis Noe, dalam komposisi yang sedikit rancak dan memiliki progresi kord dinamis itu.

Dalam Itu Bukan Cinta, Noe mencoba ‘membesarkan’ hati mereka yang menjadi korban sebuah kisah cinta. Mereka yang, “…peluhnya tak ada lagi, terkuras lelahnya hati…”. Yang, “… tak mudah patah hati…”. Dalam situasi seperti ini, Noe menyodorkan solusi: “…teriakkan saja, saat kau berkata kepada dunia, itu bukan cinta, dia takkan bisa membuatmu merasa kehilangan nada dalam di jiwa…”

Berbicara soal rasa rindu, Noe tidak mau berandai-andai membayangkan sebuah percintaan yang bergelora. Ia mengembalikan rasa tadi ke pondasinya. Rindu bagi Noe, seperti dituangkan dalam lagu Du Du Rindu, adalah sebuah keinginan untuk terbawa ke dunia lain, sebuah dunia, “… yang tak ada kata sendu…”. Kenyataan dalam sebuah kerinduan pun diakui oleh Noe yakni, seseorang kadang tidak bisa berbuat banyak apabila berhadapan dengang fase itu selain menunggu.

Dalam Duka dipakai Noe untuk menggambarkan bagaimana sukacita dalam hubungan percintaan adalah sesuatu yang pantas dikecap. Seseorang tidak perlu merasakan kesepian apabila ada sukacita. Namun, ia menyodorkan sebuah hipotesa ke dalamnya: bagaimana bila duka menyelimuti hubungan itu? Bagaimana seseorang menyikapinya? “… Dalam duka, ku bertanya, bagaimana dalam hatimu bicara?”, begitu Noe meminta afirmasi. Sikapnya sendiri jelas: “… di saat hilang jalanmu, dan saat hilang nafasmu, ku kan ada, ku di sana, menemanimu slalu…”

Semua lirik bernas tadi dikemas Letto ke dalam aransemen yang tidak kalah apiknya. Piano menjadi instrumen paling banyak ditampilkan di hampir semua lagu dalam album ini. Namun, instrumen ini tidak menjadi dominan. Ia memperkaya, memperkuat, dan menambah manis satu komposisi dan komposisi lainnya.

Sejumlah alat musik lain juga dimasukkan Letto ke dalam karya mereka seperti, cello, tamborine, dan conga. DiTapi Saat, personil Letto sepakat untuk memasukkan unsur brass ke dalamnya. Adanya bunyi alat tiup macam ini adalah untuk pertama kalinya diterapkan Letto. “Sebenarnya, di Kau, Aku, dan Obsesiku, di album pertama, brass juga dipakai. Namun, unsur itu kemudian dihilangkan,” ungkap Patub.

Tidak berhenti di bebunyian, personil Letto juga ikut mencoba bermain di luar kebiasaan mereka untuk memperkuat atmosfir komposisinya. Ari, bassist Letto, menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda di album ini, khususnya di lagu Menyambut Janji. “Untuk pertama kalinya saya menggunakan pick,” ungkap Ari. Biasanya Ari menggunakan teknik open finger di semua karya Letto.

Dhedot harus bisa mengerem kebiasaan menggunakan snare dalam setiap lagu Letto. Di Mutiara, ia hanya memainkan semua tom dan sedikit cymbal saja, dan sama sekali tidak menyentuh snare. “Ini pertama kali buat saya,” kata Dhedot. ‘Pengorbanan’ macam itu diperlukan karena lagu ini menonjolkan nuansa khidmat yang dalam.

Letto juga mencoba keluar dari pakem ketukan 4/4. Ini bisa didengar dalam komposisi bertajuk Dalam Duka, danYang Ku Sebut Sayang. Di Dalam Duka, Letto menggunakan ketukan 6/8 ke dalam komposisi bernuansa mellow, yang menjadi single pertama album ini. Ada semacam kesengajaan dalam penggunaan ketukan tersebut. “Ketukan itu membuat lagu kami terdengar mewah,” ungkap Noe.

Ketukan itu, lanjut Noe, juga bisa digunakan untuk menerjemahkan lagu bernuansa mellow, “Tanpa harus menjadi cengeng,” ujarnya. Bagi Noe, ketukan umum, yakni 4/4, terdengar klise, dan Letto sangat menghindari lubang jebakan seperti itu. Belakangan ini banyak band yang menyodorkan single bernuansa mellow, namun tidak memberi tambahan apa-apa selain kecengengan yang membosankan.

Di saat yang sama, Letto ingin memperlihatkan bahwa tradisi melepas single pertama bernuansa mellow sangat bisa disiasati dengan cerdas. Lagu tersebut makin terdengar megah karena dimasukkannya unsur musik gesek, yang secara proporsional tersebar ke dalam aransemen lagu ini. Letto tidak berhenti hingga di situ. Di bagian interlude mereka juga memasukkan bunyi tabla di bagian kedua melodi gitar yang dimainkan Patub.

Satu lagi yang unik ada di tembang Yang Kusebut Sayang. “Kami mencoba mengaplikasikan ketukan 5/4,” kata Noe. Ketukan macam ini termasuk sulit untuk diterapkan ke dalam nafas pop karena ia memiliki kecenderungan menjadi progresif. Sting pernah mengadopsi ketukan ini ke dalam karyanya yang bertajuk Seven Days. Meski sulit, Letto berhasil meramu ketukan tadi menjadi sebuah komposisi yang apik, nyaman di telinga, dan memiliki kans untuk menjadi lagu hit.

Semua upaya personil Letto itu pada akhirnya membuat “Cinta, Bersabarlah…” menjadi sebuah kumpulan karya yang jauh dari sekedar obat rindu karena sempat vakum.